Setiap yang Bernyawa Pasti Mati

Strategi Spiritual dalam Persiapkan Bekal yang Berkekalan

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


     SETIAP  yang bernyawa pasti akan merasakan mati (kullu nafsin dzāiqatul maut). Setelah meninggal seseorang tidak lagi bisa melakukan amal shaleh layaknya orang-orang di dunia. Kehidupan yang dilalui di alam barzakh berbanding lurus dengan amal perbuatan di dunia (al-jazâ’ min jinsil amal). Setiap orang berharap amal-amal shaleh mereka yang dapat memberi pertolongan. Lantas amalan yang bermanfaat bagi orang telah meninggal?.

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan terdapat 3 amalan yang berkekalan setelah meninggal.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang meninggal terputus amalnya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Riwayat di atas menegaskan bahwa pada umumnya amal seseorang terhenti setelah meninggal kecuali tiga yaitu: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan.

Seorang ulama tersohor asal Mesir Syekh al-Mutawalli as-Sya’rawi pernah berkata, “Harta yang dikeluarkan di jalan Allah swt seumpama seseorang menyimpang uang di bank yang bisa diambil kapan dibutuhkan”. Perumpamaan itu sangat tepat, karena apapun yang diberikan untuk Allah Subhanallah Waatala pasti kelak akan diterima.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Anak Adam berkata, 'aduhai hartaku, aduhai hartaku', padahal tidak ada harta yang menjadi milikmu melainkan yang kau makan lantas menjadi musnah, atau apa yang kamu pakai lalu menjadi kusut atau yang kamu sedekahkan lalu harta tersebut habis." (HR. Ahmad)

Keberuntungan besar bagi seorang muslim yang ingat akan fase kehidupan selanjutnya. Tiada siapapun yang memberi pertolongan selain apa yang diusahakan semasa hidup. Imam an-Nawawi berkata, “Sebuah doa sampai pahalanya kepada orang yang sudah meninggl, begitu juga dengan sedekah”.(an-Nawawi, Syarhu shahih muslim, 11/85)

Selain harta, ilmu yang diajarkan dalam rangka menyelamatkan umat dari kungkungan kejahilian menuju ilmu pengetahuan akan memberi pertolongan dari anak didiknya. Setiap amal kebaikan yang mereka lakukan akan memberikan sumbangsih amal. Jika seorang guru memiliki satu murid lalu murid itu mengajarkan ilmunya kepada 10 murid dan 10 murid itu melakukan hal yang sama, orang yang pertama mengarjkan kebaikan tersebut akan mendapat manfaat.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الأَنْصَارِيِّ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: إِنِّي أُبْدِعَ بِي فَاحْمِلْنِي، فَقَالَ: «مَا عِنْدِي»، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا أَدُلُّهُ عَلَى مَنْ يَحْمِلُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ»

Dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka bagi dia pahala yang orang yang mengerjakan kebajikan tersebut.” (HR. Muslim)

Sebuah kebaikan tidak hanya terbatas pada pelaku langsung, tetapi juga mencakup orang yang menjadi perantara atau penunjuk jalan menuju kebaikan tersebut. Seseorang yang mengarahkan, mengajak, atau memfasilitasi orang lain dalam berbuat baik akan mendapatkan pahala yang sebanding dengan pelakunya, tanpa mengurangi pahala orang yang melaksanakannya.

Program-program baik bermanfaat seperti menghidupkan pengajian di masjid-masjid, mengajak masyarakat membantu korban bencana dan meringankan beban orang yang ditimpa kesulitan bagian dari ilmu yang bermanfaat. Setelah penggagasnya meninggal akan tetap mendapat pahala selama perbuatan baik tersebut berkesinambungan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

Barang siapa memulai dalam Islam suatu amalan yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. (HR. Imam Muslim)

Pesan moral yang ingin disampaikan hadis di atas ialah jangan pernah bosan membuat program-progam yang bermanfaat, karena dampak yang dirasakan tidak hanya di dunia tetapi sampai ke akhirat kelak.

Adapun amal yang akan terus memberi manfaat bagi orang telah meninggal ialah anak shaleh yang mendoakan orang tuanya. Ibnu Malak berkata, seorang anak yang melakukan amal shaleh akan tetap memberi manfaat bagi orang tuanya walau tidak ada pengkhusus, sebab anak merupakan bagian dari mereka. Seperti orang yang menanam pohon, ia mendapatkan pahala dari setiap yang dimakan darinya, baik ada yang mendoakannya atau tidak. (Abdul Qâdir Al-Hamd, Fiqhul islâmi syarhu bulûghur marâmi, 6/78).

Pada dasarnya doa-doa tidak hanya terbatas pada anak kandung, kaum muslimin yang memintakan ampun bagi suadara seiman yang telah mendahului memberi faedah yang sama.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami. (QS. Al-Hasyar: 10)

Maksud orang yang datang kemudian pada ayat di atas ialah orang-orang Muhajirin yang memintakan ampun untuk saudara mereka dari kalangan kaum Anshor. (At-Thabari, Jāmi’ul bayan fi takwilil Qur’an, 23/287). Permintaan istighfar itu bertujuan agar mereka yang telah mendahului diberi kemudahan.


Kematian merupakan kepastian yang tidak dapat dihindari dan sejak saat itu seluruh amal manusia pada dasarnya terputus, kecuali amalan yang memiliki dampak berkelanjutan. Hadis Nabi ﷺ menegaskan bahwa terdapat tiga bekal utama yang tetap mengalir pahalanya setelah kematian, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak saleh. Ketiganya menunjukkan bahwa nilai suatu amal tidak hanya diukur dari pelaksanaannya saat hidup, tetapi juga dari keberlanjutan manfaatnya bagi orang lain.

Dengan demikian, strategi spiritual dalam mempersiapkan bekal sebelum kematian terletak pada upaya membangun amal yang berkelanjutan dan berdampak luas. Seorang muslim hendaknya tidak hanya fokus pada kebaikan yang bersifat personal, tetapi juga pada amal yang mampu hidup lebih lama dari dirinya, sehingga menjadi penolong di alam akhirat kelak.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar